Bali dan Patrilineal

Orang Bali setelah menikah, sebagian besar akan mengharapkan anak pertamanya laki-laki. Dalam adat Bali, jika di dalam sebuah keluarga hanya memiliki anak perempuan saja, maka keluarga ini akan merasa sudah tidak memiliki penerus lagi. Ini karena adat di Bali menganut kekerabatan dengan sistem patrilineal. Sistem patrilineal mengakui kekerabatan dari garis keturunan ayah (laki-laki). Sistem ini mengakibatkan adanya perlakuan berbeda antara anak laki-laki dan perempuan, khususnya dalam hal pemberian warisan. Dan dari sistem ini pula lahir istilah “nyentana” di Bali.

Warisan

Karena menganut sistem patrilineal, maka yang mendapat warisan hanyalah anak laki-laki saja. Ini memberikan kesan seolah-olah ada diskriminasi terhadap anak perempuan di Bali. Itulah kenyataannya. Tapi tidak jarang ada orang tua yang juga memberikan warisan kepada anak perempuannya, meskipun jumlahnya tidak sebanyak yang diterima oleh saudara laki-lakinya.

Saya pribadi memiliki pemikiran; rasanya sangat tidak adil kalau saya tidak memberikan apa-apa kepada anak perempuan saya, meskipun nantinya dia akan diambil orang dan menjadi keluarga orang lain. Suatu hari nanti, saya ingin memberikan 2 dari 10 yang saya punya untuk anak perempuan saya. Itupun kalau ada yang diwariskan. :)

Nyentana

pengantin-bali

Pengantin Bali berdoa saat upacara pernikahan.

Dalam adat Bali, jika sebuah keluarga tidak memiliki anak laki-laki dan hanya memiliki anak perempuan saja, maka sering timbul keinginan dari orang tua untuk mengangkat menantunya sendiri sebagai anak. Artinya, si menantu langsung diakui seperti anak laki-lakinya untuk meneruskan silsilah keturunannya. Dalam hal ini, si menantu yang diangkat menjadi anak ini disebut “nyentana”.

Anak laki-laki yang sudah “nyentana” ini harus melepaskan diri atau keluar dari silsilah keluarga sebelumnya. Dan dia tidak berhak menerima warisan lagi dari orang tua kandungnya. Tapi nantinya dia akan mendapat warisan dari mertuanya sendiri.

Itulah sedikit uraian singkat tentang sistem kekerabatan patrilineal di Bali berikut dampak yang ditimbulkannya. Semoga menjadi sedikit tambahan pengetahuan bagi kita semua.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

CommentLuv